Museum Semedo Jadi Ikon Wisata dan Sejarah Tegal

- Rabu, 13 Maret 2019 | 14:40 WIB
Bangunan Museum Semedo berdiri megah dengan beragam aksesoris manusia purba Area lampiran. (Dwi Ariadi/ayotegal)
Bangunan Museum Semedo berdiri megah dengan beragam aksesoris manusia purba Area lampiran. (Dwi Ariadi/ayotegal)

KEDUNGBANTENG, AYOTEGAL.COM -- Mengulas situs Semedo dan sekarang sudah dilengkapi dengan berdirinya sebuah museum memang cukup menarik. Ada perjalanan panjang untuk mewujudkan Museum Semedo. 

Tanti Asih, pemandu informasi Situs Semedo yang juga merupakan anak dari Dakri, penemu fosil Semedo merasakan awal kali menemukan fosil banyak orang yang tidak percaya. 

"Sebagaimana warga yang lain, sebagian besar warga kerja ke hutan itu membiarkan saja melihat batu-batu berserakan. Sementara bapak saya penasaran ada yang unik dari bebatuan itu. Dan, ternyata benar setelah diteliti para ahli bebatuan yang ternyata fosil ini mengandung kisah sejarah yang cukup penting," katanya.

Tanti meyakini keberadaan museum akan menjadi ikon wisata Kabupaten Tegal  yang juga sekaligus menjadi pusat penelitian dan belajar sejarah. 
Apalagi berdasarkan temuan pada tahun 2005 dan hasil penelitian BPSMP Sangiran dan Balai Arkeologi Yogyakarta terdapat himpunan artefak litik berupa alat batu masSif dan non-massif.

Alat batu massif terdiri atas kapak penetak (chopping), kapak perimbas (chopper), kapak genggam (hand axe), batu berfaset (polyhedral), batu inti (core), dan batu pukul (percutor). Sedangkan alat batu non-massif berupa alat serpih, serpih, serut, gurdi, serpihan non-intensional. Bahan koral kersikan ini hanya ditemukan di Situs Semedo dan menjadi ciri utama situs ini, karena di situs-situs paleolitik yang lain belum pernah ditemukan bahan alat dari koral kersikan.

Selain itu, juga ada jenis fauna yang telah teridentifikasi meliputi Elephantidae (gajah purba), Bovidae (kerbau, sapi, banteng), Cervidae (sejenis rusa), Rhinoceros sp. (badak), Suidae (babi), Hippopotamus sp. (kuda nil), Canidae, Felidae, Hyaenidae, Chelonidae (penyu), Crocodilidae (buaya), dan Lamnidae (ikan hiu). Fosil avertebrata yang berhasil ditemukan adalah phylum Ceolenterata, Echinodermata, dan molusca. Salah satu temuan lain dari situs Semedo adalah gajah kerdil purba atau Stegodon (pygmy) Semedoensis. Jenis stegodon tersebut diyakini endemik Semedo, yang tak bisa dijumpai di daerah lain.

Balai Arkeologi Yogyakarta juga berhasil mengidentifikasi dengan analisis morfometris dua gigi yang diduga kuat adalah fosil kera besar atau kera raksasa (Gigantopithecus blacki). Penemuan fenomenal ini mematahkan konsep para ahli paleontologi yang menyimpulkan bahwa habitat Gigantopithecus hanya berada di sekitar Tiongkok, Vietnam, dan India. Kera ini disebut raksasa karena tingginya mencapai lebih dari 3 meter atau 9–12 kaki. 

Dilihat dari konteksnya, fosil kera raksasa ini ditemukan pada lapisan tanah berumur sekitar satu juta tahun lalu.

Hasil temuan itu selama ini tersimpan di rumah Dakri. 

Halaman:

Editor: Andres Fatubun

Tags

Terkini

X